Informasi finansial, saham, crypto, dan aplikasi paling hits

Finansial

Trading Saham Halal atau Haram? Begini Hukumnya

hukum trading saham halal haram dalam islam

Apakah trading saham halal atau haram? Pertanyaan ini bisa dijawab oleh fatwa MUI dan standar Syariah Internasional AAOIFI dengan menyatakannya sebagai kegiatan yang dibolehkan (mubah). Namun hati-hati, kamu perlu benar-benar mengetahui kalau ada beberapa jenis saham dan praktik di dalamnya yang membuat aktivitas trading menjadi haram.

Secara umum, hukum beli saham menurut Islam adalah halal jika dilakukan sesuai dengan transaksi syariah. Hal ini terutama bila saham dibeli dengan pasti, bebas dari hal-hal yang meragukan, serta tidak mengandung unsur riba dalam pembeliannya.

Saham-saham yang diizinkan adalah saham perusahaan dagang atau perusahaan manufaktur dengan ketentuan yang benar-benar bukan rekayasa. Saham tidak boleh diperjualbelikan dan dijamin asalkan sesuai dengan aturan yang berlaku.

Dasar Pengenaan Hukum Saham

Menurut MUI dan islam, halal atau haramnya jual beli saham dilihat dari tiga unsur dasarnya, yaitu:

  1. Transaksi saham
  2. Pengelolaan perusahaan
  3. Cara penerbitan saham

Jika, elemen ketiga tersebut dijalankan sesuai prinsip syariah atau ajaran agama islam, maka perdagangan saham halal dan boleh dilakukan. Selain itu, saham yang tidak berasal dari perusahaan yang bergerak dibisam haram menurut islam, seperti minuman keras, industri kasino, dan sebagainya.

Hukum Saham yang Halal

Terdapat pengenalan mengenai penetapan hukum saham dalam Islam. Mengutip dari Ensiklopedi Hukum Islam, dalam literatur fiqih, diambil dari istilah musahamah yang berasal dari kata sahm yang berarti saling memberikan saham atau bagian.

Melansir dari jurnal Islamic Equity Market karya Rahmani Timorita Yulianti, dalam akad pembelian saham ini tujuan pembeli adalah untuk menerima penyesuaian sesuai dengan proporsinya apabila perusahaan mengalami keuntungan. Sebaliknya, jika kerugian dialami perusahaan kerugian, maka pemilik saham ikut menanggung kerugian sesuai dengan proporsinya.

Baca Juga  Glosarium Daftar Istilah Investasi Saham

Dari hal itulah musahamah diklasifikasikan oleh ahli fiqih modern sebagai salah satu bentuk syirkah (perserikatan dagang).

Hal dalam Islam yang Membolehkan Trading Saham

Pada transaksi saham, ada unsur aktivitas antara manusia lewat sarana harta benda atau ekonomi (muamalah maliyah) yang dibolehkan dalam agama. Menurut Fatwa DSN-MUI No. 07/DSN-MUI/IV/2000 terdapat kaidah fiqih yang tertulis: “Pada dasarnya, semua bentuk muamalah boleh dilakukan kecuali ada dalil yang mengharamkannya.”

Hukum dibolehkannya transaksi saham juga didasari unsur kerja sama atau perkongsian karena pihak pembeli saham memberikan modal kepada perusahaan atau emiten untuk perkembangan usahanya.

Anggota DSN MUI Kanny Hidaya menjelaskan bila transaksi saham memenuhi poin-poin rukun akad jual beli secara fiqih berikut.

  • Ada pihak yang bertransaksi, yakni pembeli yang memasukkan harga permintaan (bid) dan penjual yang memasang harga penawaran (offer).
  • Ada barang yang diperjualbelikan, yaitu saham.
  • Ada harga saham yang tertera.
  • Adanya ijab kabul, yaitu saat transaksi berhasil begitu harga bid dan offer berada di titik temu.

Hal Yang Harus Dihindari dalam Saham

Dewan Syariah Nasional Majelis Ulama Indonesia (MUI) mengeluarkan Fatwa Nomor 40/DSN-MUI/X/2003 tentang Pasar Modal dan Pedoman Penerapan Prinsip Syariah di Bidang Pasar Modal.

Dalam fatwa tersebut, tertulis bahwa transaksi pasar modal yang diperbolehkan oleh syariah harus mengindari hal-hal berikut:

  1. Perdagangan atau transaksi dengan penawaran dan/atau permintaan palsu.
  2. Perdagangan atau transaksi yang tidak disertai dengan barang dan/atau jasa.
  3. Perdagangan atas barang yang belum dimiliki.
  4. Pembelian atau penjualan atas efek yang menggunakan atau memanfaaatkan informasi orang dalam dari emiten atau perusahaan publik.
  5. Transaksi marjin atas efek syariah yang mengandung unsur bunga (riba).
  6. Perdagangan atau transaksi dengan tujuan penimbunan (ihtikar).
  7. melakukan perdagangan atau transaksi yang mengandung unsur suap (risywah).
  8. Transaksi lain yang tidak pasti (gharar), penipuan (tadlis), termasuk juga mengandung (ghisysy), dan upaya untuk mempengaruhi pihak lain yang terkait (taghrir).
Baca Juga  Jenis-Jenis Index Saham di Bursa Efek Indonesia

Leave a Reply